PALEMBANG — Ketua PW Lakpesdam Sumatera Selatan, Hernoe Roesprijadjie, SIP., MH., M.Si., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) atas dedikasi dan pengabdiannya selama memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2021–2026.
Menurut Hernoe, perjalanan kepemimpinan Gus Yahya selama lima tahun tentu tidak terlepas dari berbagai dinamika, perbedaan pandangan, kontroversi, maupun polemik. Namun, seluruh dinamika tersebut tidak seharusnya menghapus berbagai kontribusi dan ikhtiar yang telah dilakukan untuk kemajuan NU.
“Di luar semua kontroversi dan polemik yang mengiringi kepemimpinan Gus Yahya, kita tetap harus mengakui bahwa beliau telah berbuat dan berusaha memberikan yang terbaik untuk NU dalam banyak aspek,” ujar Hernoe.
Hernoe menilai, setiap kepemimpinan memiliki tantangan dan konteks zamannya masing-masing. Karena itu, evaluasi terhadap sebuah kepemimpinan merupakan hal yang wajar dalam organisasi. Namun, evaluasi tidak semestinya membuat warga NU kehilangan tradisi untuk menghargai orang yang telah mencurahkan waktu, pikiran, tenaga, dan pengabdiannya bagi organisasi.
Menghargai Pengkhidmatan
Lebih jauh, Hernoe mengajak seluruh elemen NU untuk membangun budaya organisasi yang lebih dewasa, yakni mampu mengkritik tanpa menghilangkan penghargaan dan mampu berbeda tanpa harus meniadakan jasa seseorang.
Menurutnya, NU memiliki tradisi panjang dalam menghormati ulama, kiai, pengurus, kader, dan seluruh warga yang mengambil bagian dalam perjuangan organisasi. Tradisi tersebut perlu terus dirawat di tengah dinamika organisasi yang semakin kompleks.
“Siapa pun yang pernah mendapatkan amanah dan telah berkhidmat di NU, menurut saya layak mendapatkan apresiasi. Tidak ada manusia yang sempurna dalam menjalankan amanah. Tetapi setiap ikhtiar dan pengabdian tetap patut dihargai,” katanya.
Hernoe menegaskan, memberikan apresiasi bukan berarti mengabaikan kritik atau menutup mata terhadap berbagai persoalan yang pernah terjadi. Sebaliknya, apresiasi merupakan bentuk kedewasaan dalam berorganisasi.
Kritik tetap diperlukan, evaluasi tetap penting, tetapi penghargaan terhadap pengkhidmatan juga harus menjadi bagian dari tradisi NU.
Menatap Masa Depan NU
Hernoe berharap berakhirnya satu periode kepemimpinan dapat menjadi momentum bagi seluruh elemen NU untuk menutup berbagai perbedaan dengan semangat rekonsiliasi dan kembali memusatkan perhatian pada agenda besar organisasi.
Menurutnya, NU memiliki pekerjaan yang jauh lebih besar daripada sekadar mempertajam perbedaan internal. Tantangan umat, pendidikan, ekonomi, dakwah, kaderisasi, penguatan pesantren, perkembangan teknologi, hingga perubahan sosial membutuhkan energi besar dari seluruh warga NU.
“Sekarang saatnya kita memberikan apresiasi kepada mereka yang telah selesai menjalankan amanah, mengambil pelajaran dari perjalanan yang telah dilalui, kemudian bersama-sama melanjutkan khidmah NU,” tutur Hernoe.
Ia berharap pergantian kepemimpinan tidak dimaknai sebagai pergantian kubu atau pertarungan antara siapa yang menang dan siapa yang kalah. Sebaliknya, pergantian kepemimpinan harus menjadi bagian dari proses regenerasi dan kesinambungan perjuangan.
“Dalam NU tidak boleh ada istilah kalah dan menang. Yang ada adalah pergantian amanah dan kesinambungan khidmah,” tegasnya.
Hernoe pun mengajak seluruh warga NU, baik struktural maupun kultural, untuk kembali merapatkan barisan. Perbedaan pandangan yang terjadi selama proses organisasi hendaknya menjadi pelajaran untuk memperkuat NU, bukan menjadi alasan untuk saling menjauh.
Baginya, sebesar apa pun dinamika yang terjadi, NU jauh lebih besar daripada siapa pun yang pernah memimpinnya. Karena itu, setiap kader dan pengurus yang telah memberikan pengabdian layak dikenang dengan penghormatan, sementara kepemimpinan berikutnya harus diberi ruang untuk bekerja dan melanjutkan perjuangan.
“Terima kasih Gus Yahya atas pengabdian dan dedikasi selama memimpin NU. Apa yang telah dilakukan untuk NU akan menjadi bagian dari perjalanan panjang organisasi ini. Mari kita ambil yang baik, jadikan yang kurang sebagai pelajaran, dan bersama-sama melanjutkan khidmah untuk NU, umat, dan bangsa,” pungkas Hernoe. (GD/Laks)
