JOMBANG — Berakhirnya masa kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak serta-merta mengakhiri kiprahnya. Setelah Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menetapkan kepemimpinan baru PBNU, Gus Yahya justru bersiap kembali menekuni arena yang selama ini menjadi salah satu perhatian utamanya: dialog antaragama dan gerakan Islam Kemanusiaan atau Humanitarian Islam.
Gus Yahya menyatakan agenda tersebut akan dijalankan melalui sejumlah lembaga internasional yang telah ia dirikan. Salah satu yang paling strategis adalah Center for Shared Civilizational Values (CSCV), yang berfungsi sebagai sekretariat permanen untuk mengelola pergerakan global forum Religion of Twenty (R20).
R20 mempertemukan para pemimpin agama dari berbagai negara untuk membangun dialog mengenai nilai-nilai peradaban bersama.
Forum tersebut menjadi salah satu kendaraan penting dalam gagasan Gus Yahya untuk mendorong peran agama sebagai kekuatan yang menghadirkan perdamaian, kemanusiaan, dan kehidupan bersama di tengah masyarakat dunia yang semakin kompleks.
Kembali ke jalur yang sudah dibangun
Selain CSCV, Gus Yahya juga merupakan pendiri Bayt ar-Rahmah Li ad-Da’wa al-Islamiyah Rahmatan li al-‘Alamin, sebuah yayasan keagamaan global yang berbasis di Amerika Serikat.
Kedua lembaga tersebut selama ini telah bekerja sama dengan PBNU dalam pengembangan gagasan Humanitarian Islam serta penyelenggaraan berbagai forum dialog lintas agama dengan melibatkan tokoh-tokoh agama dari berbagai negara.
Dengan demikian, purna tugas Gus Yahya dari PBNU bukan berarti ia memasuki masa berhenti dari aktivitas publik. Justru, ia tampak akan mengalihkan energi dari arena struktural organisasi ke ruang gerakan yang lebih luas dan bersifat internasional.
Jika selama lima tahun terakhir sebagian besar waktunya terserap untuk memimpin organisasi sebesar NU, kini Gus Yahya memiliki ruang yang lebih besar untuk kembali mengembangkan jaringan dan gagasan yang bersifat global.
Desember ke Amerika Serikat
Agenda tersebut bahkan sudah mulai disiapkan. Gus Yahya menyampaikan bahwa pada Desember 2026 ia berencana bertolak ke Amerika Serikat untuk melakukan serangkaian kunjungan dan dialog dengan sejumlah tokoh lintas agama.
Rencana itu menunjukkan bahwa panggung Gus Yahya setelah PBNU kemungkinan tidak akan berada pada perebutan posisi struktural, melainkan pada pertarungan gagasan.
Ia akan berhadapan dengan persoalan-persoalan yang jauh lebih luas: bagaimana agama dapat menjadi jembatan dialog, bagaimana umat beragama membangun kesepahaman, serta bagaimana Islam menawarkan perspektif kemanusiaan di tengah berbagai konflik dan ketegangan global.
Jabatan berganti, gagasan terus berjalan
Perubahan kepemimpinan di PBNU merupakan bagian dari dinamika organisasi. Setelah Muktamar ke-35 NU, kepemimpinan PBNU memasuki periode baru. Namun, berakhirnya jabatan struktural Gus Yahya tidak otomatis menghapus jaringan, gagasan, dan kerja-kerja internasional yang telah dibangunnya.
Di titik inilah perjalanan Gus Yahya menarik untuk dicermati.
Ia tidak sekadar meninggalkan panggung organisasi, tetapi kembali ke jalur yang telah ia bangun sebelumnya. Dari panggung PBNU, ia berpotensi semakin aktif memainkan peran sebagai penghubung antara Islam Indonesia dengan komunitas agama dan masyarakat internasional.
Dengan jejaring R20, CSCV, Bayt ar-Rahmah, serta agenda dialog lintas agama, Gus Yahya tampaknya memilih tetap berkhidmat melalui jalur yang berbeda: dari kepemimpinan struktural menuju diplomasi keagamaan dan kemanusiaan global.
Bagi Gus Yahya, pergantian jabatan tampaknya bukan akhir perjalanan. Justru, purna tugas dari PBNU dapat menjadi momentum untuk kembali memperluas medan pengabdian—dari mengelola organisasi di dalam negeri menuju memperjuangkan gagasan Islam Kemanusiaan di panggung dunia. (GD/Laks)
