Hernoe Roesprijadji, S.I.P., M.H., M.Si. merupakan salah satu figur yang perjalanan hidupnya mempertemukan dunia akademik, profesional, sosial, politik, dan pengabdian ke-NU-an. Dengan latar pendidikan ilmu politik serta pengalaman panjang dalam dunia usaha dan organisasi, Hernoe menempati posisi strategis sebagai Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (PW Lakpesdam NU) Sumatera Selatan masa khidmat 2026–2031.
Ia resmi dilantik sebagai Ketua Lakpesdam NU Sumatera Selatan pada 30 Januari 2026 di Griya Agung, Palembang. Pelantikan tersebut dilakukan oleh Rais Syuriah PWNU Sumatera Selatan KH Syarifuddin Ya’qub dan dihadiri antara lain Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Herman Deru, jajaran PWNU Sumsel, tokoh agama, serta kalangan akademisi.
Pengangkatan tersebut bukan sekadar pergantian kepemimpinan sebuah lembaga. Bagi Lakpesdam, hadirnya Hernoe membawa harapan agar lembaga kajian NU di Sumatera Selatan semakin kuat sebagai pusat pemikiran, riset, pengembangan kader, dan perumusan rekomendasi kebijakan yang mampu menjawab persoalan masyarakat dan perkembangan daerah.
Dari Dunia Akademik Menuju Pengabdian Sosial
Jejak intelektual Hernoe Roesprijadji berangkat dari dunia pendidikan. Ia tercatat menempuh pendidikan di Universitas Indonesia (UI) pada bidang Ilmu Politik dan menyelesaikan pendidikan sarjananya pada periode 1985–1990. Ketika menjadi mahasiswa, ia aktif dalam Resimen Mahasiswa (Menwa) Jayakarta Batalyon 8 Universitas Indonesia dan pernah dipercaya sebagai Wakil Komandan Batalyon.
Pengalaman tersebut memberikan warna penting dalam pembentukan karakter Hernoe: disiplin, kepemimpinan, organisasi, kemampuan bekerja dalam tim, serta keberanian mengambil tanggung jawab.
Jauh sebelum berada pada posisi kepemimpinan Lakpesdam, pengalaman organisasinya telah berkembang melalui berbagai ruang pengabdian. Rekam jejak publik yang tersedia mencatat keterlibatannya dalam kegiatan sosial dan kaderisasi Nahdlatul Ulama, termasuk sebagai koordinator kader penggerak NU dan kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat.
Dengan demikian, perjalanan Hernoe tidak dapat dilihat hanya dari satu bidang. Ia tumbuh dari persilangan antara pendidikan, organisasi, dunia profesional, pemberdayaan masyarakat, dan aktivitas kebangsaan.
Membawa Perspektif Dunia Usaha ke Organisasi
Selain aktif dalam organisasi, Hernoe memiliki pengalaman panjang di dunia profesional.
Profil profesional yang tersedia secara publik mencatat bahwa ia pernah berkarier di PT Bayu Buana Gemilang sebagai Business Development/Project Manager pada 2005–2007. Setelah itu, ia berkiprah di PT Citra Nusantara Gemilang, antara lain sebagai Department Head of Marketing NGV dan kemudian General Manager.
Sejak 2013, Hernoe tercatat sebagai Director PT CNG Hilir Raya. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinannya tidak hanya dibangun dari pengalaman organisasi, tetapi juga dari pengalaman mengelola pekerjaan profesional dan dunia usaha.
Persinggungan antara dunia akademik dan profesional menjadi modal penting ketika ia kemudian dipercaya memimpin lembaga kajian. Sebuah lembaga seperti Lakpesdam membutuhkan kemampuan membaca persoalan secara konseptual, tetapi sekaligus memahami realitas lapangan dan kebutuhan praktis masyarakat.
Aktivitas di Nahdlatul Ulama
Hubungan Hernoe dengan Nahdlatul Ulama juga memiliki perjalanan panjang.
Dalam rekam jejak organisasi yang tersedia, ia pernah menjalankan berbagai peran dalam lingkungan NU dan Gerakan Pemuda Ansor. Profil profesionalnya mencatat keterlibatan sebagai Koordinator Kader Penggerak Nahdlatul Ulama dan Koordinator Relawan Aswaja Sumatera Selatan, serta pernah menjadi Wakil Ketua Departemen Pemberdayaan Ekonomi di Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor.
Ia juga pernah tercatat sebagai Wakil Ketua PWNU Sumatera Selatan dan Pembina PW Gerakan Pemuda Ansor Sumatera Selatan. Dalam kontestasi politik lokal, namanya pernah muncul sebagai calon wakil wali kota Palembang pada Pilkada 2018 mendampingi H. M. Akbar Alfaro.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kiprah Hernoe berada pada spektrum yang luas: dari kaderisasi, pemberdayaan ekonomi, organisasi kemasyarakatan, hingga ruang politik dan pemerintahan.
Berpolitik Kebangsaan
Keterlibatan Hernoe dalam dunia politik juga tercatat dalam berbagai sumber publik.
Pada Pemilu 2024, ia tercatat sebagai calon anggota DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk daerah pemilihan Sumatera Selatan I. Data resmi KPU mencatat Hernoe memperoleh 17.556 suara dan berada pada peringkat ketiga perolehan suara calon di internal PKB untuk dapil tersebut.
Pengalaman politik tersebut memberikan dimensi lain terhadap kapasitasnya. Dunia politik mempertemukannya dengan persoalan kebijakan publik, aspirasi masyarakat, tata kelola pemerintahan, pembangunan daerah, serta dinamika demokrasi.
Bagi seorang pimpinan lembaga kajian, pengalaman tersebut dapat menjadi modal dalam memahami bagaimana gagasan dan hasil riset diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang dapat dipahami oleh masyarakat maupun pemangku kepentingan.
Memimpin Lakpesdam NU Sumatera Selatan
Babak penting dalam perjalanan Hernoe dimulai ketika ia dipercaya menjadi Ketua PW Lakpesdam NU Sumatera Selatan masa khidmat 2026–2031.
Lakpesdam memiliki posisi strategis dalam ekosistem organisasi NU karena berhubungan dengan dua hal penting: kajian/pemikiran dan pengembangan sumber daya manusia.
Pada saat pelantikannya, Hernoe menegaskan keinginannya menjadikan Lakpesdam NU Sumsel sebagai lembaga kajian yang produktif dan memberikan dampak nyata. Ia menggambarkan Lakpesdam sebagai lembaga yang dapat berfungsi sebagai pusat riset dan think tank, dengan kajian yang menghasilkan rekomendasi berbasis data dan analisis ilmiah.
Menurut gagasan yang disampaikannya, ruang kajian Lakpesdam tidak hanya terbatas pada persoalan internal NU. Persoalan pendidikan, ekonomi, sosial, pembangunan daerah, kebijakan publik, dan berbagai isu strategis masyarakat juga menjadi bagian dari ruang perhatian lembaga tersebut.
Ini menunjukkan arah kepemimpinan Hernoe: NU tidak cukup hanya menjadi penonton terhadap perubahan, tetapi harus memiliki kemampuan membaca perubahan, meneliti persoalan, menyusun gagasan, dan menawarkan solusi.
Lakpesdam sebagai Think Tank NU
Di bawah kepemimpinannya, Lakpesdam NU Sumsel diarahkan untuk tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Ada gagasan yang lebih besar: menjadikan lembaga tersebut sebagai rumah intelektual NU Sumatera Selatan.
Rumah intelektual berarti tempat bertemunya:
- akademisi;
- ulama;
- profesional;
- aktivis muda;
- kader NU;
- praktisi pemerintahan;
- pelaku usaha;
- tokoh masyarakat; dan
- berbagai kelompok masyarakat sipil.
Dari ruang pertemuan tersebut diharapkan lahir kajian yang tidak hanya bagus secara akademis, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Orientasi ini menjadi semakin penting karena Sumatera Selatan menghadapi berbagai persoalan pembangunan yang membutuhkan pendekatan lintas disiplin.
Tanjung Carat dan Tradisi Kajian Berbasis Isu Strategis
Salah satu agenda awal yang pernah disampaikan Hernoe setelah pelantikannya adalah rencana seminar mengenai Pelabuhan Internasional Tanjung Carat.
Rencana tersebut penting karena memperlihatkan cara Lakpesdam memandang pembangunan daerah: proyek strategis tidak cukup hanya dilihat dari sisi pembangunan fisik, tetapi perlu dianalisis dari berbagai perspektif—ekonomi, sosial, lingkungan, konektivitas, tenaga kerja, tata ruang, hingga dampaknya terhadap masyarakat.
Hernoe menyebut bahwa proyek strategis seperti Tanjung Carat mempunyai dampak besar terhadap perekonomian dan konektivitas Sumatera Selatan sehingga perlu dikaji secara komprehensif.
Pendekatan seperti ini menggambarkan model kepemimpinan yang ingin dibangun: kajian harus hadir sebelum kebijakan, dan rekomendasi harus dapat diterjemahkan menjadi tindakan.
Ilmu adalah Pemimpin Amal
Salah satu pernyataan Hernoe yang menggambarkan pandangannya tentang kaderisasi adalah:
“Ilmu adalah pemimpin amal.”
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam kegiatan Pendidikan Dasar-Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) Angkatan II di Sumatera Selatan pada Mei 2026. Dalam kesempatan itu ia menekankan pentingnya kader NU terus bergerak dan mendapatkan pelatihan agar mampu menjalankan organisasi dengan baik.
Gagasan ini sejalan dengan fungsi Lakpesdam.
Bagi Hernoe, kaderisasi tidak cukup hanya menghasilkan orang yang aktif secara organisatoris. Kader juga harus memiliki pengetahuan, kapasitas analisis, keterampilan, dan kemampuan menerjemahkan ilmu menjadi amal nyata.
Dengan kata lain: ilmu → kapasitas → gerakan → pengabdian → kemaslahatan.
Membangun SDM NU yang Adaptif
Era digital membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat. Informasi bergerak cepat, teknologi mengubah pola komunikasi, dan masyarakat menghadapi perubahan sosial yang sangat dinamis.
Dalam situasi seperti itu, organisasi keagamaan seperti NU menghadapi tantangan baru: bagaimana mempertahankan nilai dan tradisi sekaligus mampu beradaptasi dengan perubahan.
Di sinilah pengembangan sumber daya manusia menjadi sangat penting.
Kepemimpinan Hernoe di Lakpesdam dapat dibaca dalam kerangka tersebut: membangun kader yang memiliki akar tradisi, tetapi mampu membaca masa depan.
Kader NU masa kini tidak hanya dituntut memahami organisasi. Mereka juga membutuhkan kemampuan:
- membaca data;
- memahami persoalan sosial;
- menggunakan teknologi;
- melakukan riset;
- menyusun rekomendasi;
- berkomunikasi secara efektif;
- membangun jejaring;
- mengelola organisasi; dan
- memberikan solusi bagi masyarakat.
Menjembatani NU, Pemerintah, Akademisi, dan Masyarakat
Kepemimpinan Lakpesdam juga mempunyai arti strategis dalam membangun hubungan antara NU dan berbagai pemangku kepentingan.
Pada pelantikan Januari 2026, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menekankan pentingnya Lakpesdam menghasilkan kajian akademik yang dapat menjadi referensi bagi organisasi dan masyarakat serta menghasilkan produk yang konkret dan terukur setiap tahun.
Dalam konteks tersebut, Lakpesdam dapat memainkan fungsi sebagai jembatan pengetahuan. Hasil penelitian akademik diterjemahkan menjadi bahasa kebijakan. Persoalan masyarakat diterjemahkan menjadi agenda penelitian. Kebijakan pemerintah dianalisis dari perspektif kemaslahatan masyarakat. Sementara aspirasi warga Nahdliyin dapat dirumuskan menjadi rekomendasi yang lebih sistematis.
Itulah salah satu ruang strategis yang dapat dimainkan Hernoe selama masa khidmat 2026–2031.
Moderasi, Toleransi, dan Sumatera Selatan
Sumatera Selatan merupakan wilayah dengan masyarakat yang beragam. Karena itu, pembangunan sumber daya manusia tidak bisa dilepaskan dari persoalan toleransi, kerukunan, dan kohesi sosial.
Dalam kegiatan PD-PKPNU 2026, Gubernur Herman Deru menekankan pentingnya kader NU menjadi penggerak solusi dan penjaga toleransi. Ia juga mengingatkan kader agar menjadi pihak yang memberikan jalan keluar, bukan memperbesar persoalan.
Dalam konteks Lakpesdam, pesan tersebut memiliki relevansi kuat.
Kajian yang baik bukan kajian yang memperbesar konflik. Sebaliknya, kajian harus membantu masyarakat memahami masalah secara lebih jernih dan menemukan jalan keluar secara rasional dan bermartabat.
Karena itu, Lakpesdam di bawah kepemimpinan Hernoe memiliki peluang untuk memperkuat tradisi intelektual NU yang:
moderat, kritis, objektif, solutif, dan berpihak pada kemaslahatan masyarakat.
Dari Ruang Kajian ke Ruang Pengabdian
Kekuatan Hernoe terletak pada pengalaman lintas dunia. Ia memiliki latar pendidikan ilmu politik, pengalaman organisasi, pengalaman profesional di sektor bisnis, pengalaman dalam aktivitas sosial, pengalaman politik, serta pengalaman panjang dalam lingkungan Nahdlatul Ulama.
Perpaduan tersebut memberikan perspektif yang relatif lengkap untuk memimpin lembaga kajian.
Ia adalah seorang akademisi dapat memahami teori, seorang profesional memahami manajemen, seorang aktivis memahami masyarakat, seorang organisator memahami kelembagaan, seorang politisi memahami dinamika kebijakan, dan seorang kader NU memahami tradisi pengabdian dan khidmah.
Pertemuan berbagai pengalaman itulah yang menjadi salah satu karakter perjalanan Hernoe Roesprijadji.
Muktamar NU 2026: Tetap Berada di Tengah Gerakan
Perjalanan Hernoe sebagai Ketua Lakpesdam juga terus terlihat dalam aktivitas NU sepanjang 2026.
Pada Agustus 2026, ia dipercaya menjadi Ketua Rombongan Muktamar NU Sumatera Selatan menuju Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur. Dalam perjalanan tersebut, ia menyampaikan rasa syukur karena rombongan berjalan lancar dan penuh kekhidmatan.
Peran tersebut memperlihatkan bahwa jabatan Ketua Lakpesdam tidak membuatnya hanya berada di ruang kajian. Ia tetap terlibat dalam aktivitas organisasi dan mobilitas jamaah NU.
Hal tersebut penting karena lembaga kajian akan kehilangan relevansinya apabila terputus dari realitas organisasi dan masyarakat.
Visi Kepemimpinan 2026–2031
Jika melihat gagasan dan aktivitas Hernoe sejak dipercaya memimpin Lakpesdam, setidaknya terdapat beberapa orientasi yang dapat menjadi karakter kepemimpinannya selama masa khidmat 2026–2031.
1. Lakpesdam sebagai pusat kajian
Lakpesdam diarahkan menjadi lembaga yang menghasilkan penelitian, kajian, policy brief, rekomendasi, dan gagasan strategis.
2. Kajian berbasis data
Persoalan organisasi dan masyarakat perlu dibaca berdasarkan data, fakta, dan metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.
3. Penguatan kader
Pengembangan manusia menjadi bagian penting. Kader NU harus memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk menghadapi perubahan.
4. Respons terhadap isu daerah
Lakpesdam harus mampu membaca persoalan strategis Sumatera Selatan, bukan hanya isu internal organisasi.
5. Sinergi lintas sektor
Kerja sama dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, pesantren, komunitas, media, dan masyarakat sipil menjadi penting.
6. Penguatan tradisi intelektual NU
NU membutuhkan kader yang tidak hanya aktif secara organisatoris, tetapi juga mampu berpikir kritis dan menghasilkan gagasan.
7. Kajian yang menghasilkan solusi
Produk kajian tidak boleh berhenti sebagai dokumen. Kajian harus memiliki kemungkinan untuk diterapkan.
Tantangan Hernoe Roesprijadji
Masa khidmat 2026–2031 juga bukan periode yang ringan. Lakpesdam menghadapi tantangan besar, antara lain perubahan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan, perubahan pola kerja generasi muda, persoalan pendidikan, ekonomi masyarakat, disrupsi informasi, polarisasi sosial, serta kebutuhan peningkatan kapasitas kader.
Tantangan terbesar bukan sekadar menghasilkan banyak kajian. Tantangannya adalah membuat kajian yang benar-benar dibaca, dipercaya, dan digunakan.
Karena itu, ukuran keberhasilan Lakpesdam ke depan bukan hanya jumlah seminar atau diskusi yang diselenggarakan, tetapi seberapa banyak gagasan yang mampu memberi perubahan nyata.
Hernoe dan Generasi Muda NU
Salah satu pekerjaan penting Lakpesdam adalah mempersiapkan generasi muda NU menghadapi dunia yang berubah. Generasi muda membutuhkan ruang untuk belajar, berdiskusi, melakukan penelitian, berorganisasi, dan menghasilkan gagasan.
Lakpesdam dapat menjadi laboratorium bagi lahirnya generasi baru intelektual NU Sumatera Selatan. Bukan intelektual yang hanya pandai berbicara, tetapi intelektual yang membaca realitas, melakukan penelitian, memahami masyarakat, menyusun gagasan, dan bekerja untuk kemaslahatan.
Dalam konteks inilah pengalaman Hernoe dalam dunia organisasi, profesional, politik, dan pendidikan dapat menjadi modal kepemimpinan yang berharga.
Sebuah Perjalanan yang Belum Selesai
Biografi Hernoe Roesprijadji ini pada akhirnya bukan hanya cerita mengenai jabatan. Ini merupakan cerita mengenai perjalanan seorang manusia yang bergerak melalui berbagai ruang: kampus, organisasi, dunia profesional, masyarakat, politik, dan pengabdian NU.
Dari pengalaman sebagai mahasiswa Universitas Indonesia dan aktivis Menwa, ia memasuki dunia profesional. Dari dunia profesional ia terus mempertahankan keterlibatan sosial dan organisasi. Dari perjalanan panjang tersebut, ia kemudian dipercaya memegang amanah yang berkaitan langsung dengan pengembangan pemikiran dan sumber daya manusia NU di Sumatera Selatan.
Pada 2026, amanah itu mencapai babak baru ketika ia dilantik sebagai Ketua PW Lakpesdam NU Sumatera Selatan untuk masa khidmat 2026–2031.
Lima tahun ke depan akan menjadi periode penting untuk membuktikan apakah Lakpesdam mampu tumbuh menjadi salah satu pusat pemikiran strategis NU di tingkat regional dan nasional.
Dan di situlah tantangan sekaligus peluang Hernoe berada: mengubah ilmu menjadi gagasan, gagasan menjadi rekomendasi, rekomendasi menjadi gerakan, dan gerakan menjadi kemaslahatan. (GD/Laks)
