Nahdlatul Ulama (NU) bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi juga kekuatan sosial yang memiliki jaringan luas dan peran penting dalam kehidupan masyarakat dan bangsa. Untuk menjalankan berbagai fungsi tersebut, NU memiliki sejumlah lembaga dengan bidang pengabdian masing-masing. Salah satunya adalah Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam).
Lakpesdam memiliki posisi strategis karena bergerak pada wilayah kajian, pemikiran, kaderisasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Lakpesdam tidak sekadar menyelenggarakan seminar atau diskusi, tetapi diharapkan mampu membantu NU membaca perubahan zaman, memahami persoalan masyarakat, serta merumuskan gagasan dan rekomendasi yang bermanfaat bagi organisasi dan masyarakat.
Secara historis, kelahiran Lakpesdam berkaitan erat dengan semangat pembaruan NU pada era 1980-an, khususnya setelah NU kembali menegaskan Khittah 1926 pada Muktamar Situbondo 1984. Dalam periode kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, pengembangan sumber daya manusia menjadi perhatian penting. Lakpesdam lahir dari kebutuhan untuk menghadirkan kader-kader NU yang memiliki ilmu, kemampuan berpikir kritis, keterampilan organisasi, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.
Karena itu, Lakpesdam dapat dipandang sebagai salah satu ruang intelektual NU. Ia menjadi tempat bertemunya ulama, akademisi, profesional, aktivis, dan generasi muda untuk membahas berbagai persoalan secara lebih mendalam. Tradisi pesantren dan nilai-nilai Aswaja tetap menjadi pijakan, sementara ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi digunakan untuk membaca tantangan zaman.
Dalam konteks saat ini, peran tersebut semakin penting. NU menghadapi berbagai perubahan besar, mulai dari perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan ekonomi, pendidikan, lingkungan, hingga dinamika sosial generasi muda. NU membutuhkan kader yang bukan hanya memiliki semangat berorganisasi, tetapi juga mempunyai ilmu, kompetensi, kemampuan riset, profesionalisme, dan kemampuan membaca perubahan.
Karena itu, Lakpesdam idealnya menjadi radar intelektual NU: membaca persoalan, mengumpulkan data, melakukan kajian, melahirkan gagasan, mengembangkan kader, dan memberikan rekomendasi yang dapat diterjemahkan menjadi kebijakan maupun gerakan.
Dalam konteks Sumatera Selatan, peran tersebut memiliki peluang yang sangat besar. PW Lakpesdam Sumatera Selatan dapat dikembangkan menjadi rumah pemikiran NU untuk mengkaji berbagai persoalan daerah—pendidikan, ekonomi, pesantren, pertanian, lingkungan, generasi muda, pembangunan, teknologi, dan kebijakan publik.
Kepemimpinan Hernoe Roesprijadji, S.I.P., M.H., M.Si., sebagai Ketua PW Lakpesdam Sumatera Selatan masa khidmat 2026–2031, menjadi momentum untuk memperkuat fungsi tersebut. Lakpesdam diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu menghasilkan kajian, kader, gagasan, dan rekomendasi yang memberikan manfaat nyata.
Pada akhirnya, Lakpesdam merupakan bagian penting dari ikhtiar NU untuk menyatukan ilmu dengan amal, tradisi dengan pembaruan, dan gagasan dengan gerakan.
Dari kajian lahir gagasan.
Dari gagasan lahir gerakan.
Dari gerakan lahir kemaslahatan.
Itulah semangat Lakpesdam sebagai salah satu ruang strategis Nahdlatul Ulama dalam menyiapkan manusia dan gagasan untuk masa depan. (GD/Laks)
