Riset bagi Lakpesdam bukan sekadar kegiatan mengumpulkan data, melainkan cara untuk memahami persoalan masyarakat secara objektif dan menemukan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, riset harus menjadi bagian penting dari kerja Lakpesdam dalam menjalankan fungsi kajian dan pengembangan sumber daya manusia NU.
Proses riset Lakpesdam dimulai dari menentukan persoalan. Isu yang dikaji harus berasal dari kebutuhan nyata masyarakat, warga NU, organisasi, maupun persoalan strategis daerah. Misalnya pendidikan pesantren, ekonomi warga, kemiskinan, generasi muda, lingkungan, digitalisasi, atau kebijakan publik.
Setelah masalah ditentukan, Lakpesdam menyusun pertanyaan riset dan tujuan penelitian. Selanjutnya dilakukan pengumpulan data melalui berbagai metode, seperti survei, wawancara, diskusi kelompok terarah (FGD), observasi lapangan, studi dokumen, dan kajian terhadap data statistik maupun kebijakan pemerintah.
Data yang diperoleh kemudian diverifikasi, dianalisis, dan dibandingkan dengan berbagai sumber agar hasilnya objektif. Lakpesdam tidak cukup hanya menyampaikan pendapat, tetapi harus mampu menunjukkan fakta, menemukan pola persoalan, serta menjelaskan sebab dan dampaknya.
Tahap berikutnya adalah merumuskan rekomendasi. Hasil riset harus menjawab pertanyaan: apa yang sebaiknya dilakukan? Rekomendasi dapat ditujukan kepada NU, pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat, atau pemangku kepentingan lainnya.
Dengan demikian, riset Lakpesdam memiliki alur sederhana:
Masalah → Data → Analisis → Temuan → Rekomendasi → Aksi.
Yang paling penting, riset Lakpesdam harus independen, berbasis data, terbuka terhadap berbagai perspektif, dan berpihak pada kemaslahatan masyarakat.
Dengan tradisi riset yang kuat, Lakpesdam dapat menjadi think tank NU yang tidak hanya mampu membaca persoalan, tetapi juga menghasilkan gagasan dan rekomendasi yang membantu NU serta masyarakat menghadapi perubahan zaman.
Lakpesdam tidak sekadar bertanya “apa yang terjadi?”, tetapi juga mencari tahu “mengapa terjadi, apa dampaknya, dan apa yang harus dilakukan?” (GD/Laks)
